Mengampuni, Sulitkah

Banyak orang yang bertanya kepada saya “Bagaimana caranya mengampuni?” Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan jawaban dari artikel saya sebelumnya yaitu Bagaimana Caranya Agar Bisa Bersyukur? Ya, mengampuni adalah bukan soal bagaimana caranya karena mengampuni adalah masalah respon hati kita, respon hati kita adalah masalah keputusan. Jadi untuk dapat mengampuni yang perlu kita lakukan adalah mengambil keputusan untuk mengampuni. Mungkin kebanyakan dari kita akan bilang seperti ini “Tapi kan sulit min”. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang mengampuni secara lebih dalam. Tidak seperti artikel – artikel sebelumnya dimana saya lebih banyak membahas ayat alkitab, sekarang saya akan mencoba untuk membagikan kesaksian hidup saya tentang mengampuni.

Mengapa kita harus mengampuni?

Matius 6:14-15, Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Markus 11:25-26, Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Ya, karena mengampuni adalah apa yang diperintahkan Tuhan Yesus. Perintah artinya harus dilakukan, bukan tentang bagaimana caranya. Kita mengampuni karena kita terlebih dahulu menerima pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus. Orang yang tidak mau mengampuni akan menerima konsekuensi, yaitu dosanya tidak akan diampuni. Matius 18:21-35 yang berbicara mengenai perumpamaan tentang pengampunan mungkin akan lebih banyak berbicara.

Berapa kali kita harus mengampuni kesalahan orang yang sama?

Matius 18:22, Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Ayat di atas bukan berarti kita harus mengampuni hanya sampai 490 kali, tetapi lebih dari itu, kita harus senantiasa mengampuni kesalahan orang lain, seberapa banyak dan seberapa sering pun kesalahannya.

Bagaimana kalau tidak mau mengampuni?

Yang pertama sudah dijelaskan di atas, jika kita tidak mau mengampuni maka Bapa yang di Sorga juga tidak akan mengampuni kita. Tetapi lebih dari itu, ketika kita tidak mau mengampuni, itu sama dengan menyimpan luka di dalam hati kita. Pernah dengar Beelzebul yang disebut2 sebagai penghulu setan? Dalam bahasa aslinya Beelzebul bisa diartikan sebagai “Dewa Lalat”. Tau lalat suka hinggap dimana? Ya, lalat suka hinggap pada luka. Kalau lalat biasa suka hinggap pada luka luar, maka Beelzebul suka hinggap pada luka di dalam hati. Ketika hati kita terluka, satu – satunya obat untuk mengobati hati kita adalah dengan pengampunan. Jika luka itu tidak diobati, semakin lama luka itu bisa saja semakin besar dan membusuk. Saat ada luka di hati kita maka iblis pun akan dengan mudah menyerang kita karena hati yang penuh luka adalah tempat kesukaannya iblis untuk tinggal. Jadi tidak mau kan hatinya dipenuhi luka dan dihinggapi oleh iblis? Lepaskanlah pengampunan.

Tapi kan sulit…

Ya, saya tahu untuk mengampuni bukanlah perkara yang mudah. Oleh karena itu izinkanlah saya untuk membagi sedikit kisah hidup saya terkait mengenai pengampunan. Mohon maaf sebelumnya kalau sebagian besar dari kesaksian ini sebenarnya tidak ada hubungannya, tetapi saya sekedar ingin membagikan kisah hidup saya. Saya lahir di keluarga yang sangat sederhana. Papa saya baru mengenal Tuhan Yesus pada saat menikah dengan mama saya. Masa kecil saya seingat saya sih sangat bahagia walaupun bisa dibilang tidak berkecukupan. Yang saya tahu dari mama saya, sewaktu saya kecil papa saya sering sekali berlutut di hadapan Tuhan dan mencari Tuhan setiap hari, bahkan saya ingat waktu kecil (mungkin sekitar umur 5 tahun) saya sering diajak untuk merenungkan alkitab walaupun pada akhirnya saya lupakan sih, maklum lah namanya juga anak kecil. Tetapi saya yakin benih Firman yang ditabur pada masa kecil saya, termasuk pada saat saya ada di sekolah Minggu tidak ada yang sia – sia.

Saat keluarga saya sungguh – sungguh ada di dalam TUhan Yesus, kehidupan kami mulai membaik sampai akhirnya memang bisa dibilang hidup kami berkecukupan. Seiring dengan bertambah majunya usaha papa saya, papa saya sedikit demi sedikit mulai menjauh dari kehidupan saya. Yang biasanya selalu pulang jam 5 sore, papa saya jadi suka pulang malam sampai jam 11 malam. Tidak hanya itu, papa saya juga sangat sering meninggalkan keluarga untuk pergi keluar kota. Kisah selanjutnya sudah bisa ditebak, ternyata penyebab dari pulang malamnya papa saya adalah perselingkuhan! Pertama kali mengetahui hal ini, saya melihat papa dan mama saya berbicara berdua di kamar sambil menangis menangis, pada saat itu saya kira – kira duduk di bangku 5 SD dan pada saat itu saya tidak mengerti apa – apa. Sampai pada akhirnya keluarga saya yang lainlah yang menjelaskan semuanya kepada saya. Kira – kira terbayang ga apa yang terjadi pada saya selanjutnya? Ya, mulai timbul luka di hati saya.

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saya punya adik perempuan yang usianya hanya berjarak tidak lebih dari dua tahun dan adik laki – laki yang berjarak 8 tahun dengan saya. Pada saat kejadian itu, yang saya ingat papa meminta maaf kepada saya dan adik perempuan saya. Tanpa berpikir panjang, adik perempuan saya langsung memaafkan papa saya, sampai sekarang saya masih kagum bagaimana adik perempuan saya mempunyai hati yang mau mengampuni. Namun apa yang terjadi dengan saya? Ya, saya bukanlah orang yang mudah mengampuni. Saya lupa pada saat itu saya memaafkan papa saya atau tidak, tetapi walaupun pada akhirnya saya memaafkan, itu hanya terucap lewat mulut saja, jauh di dalam lubuk hati saya masih terdapat luka yang tersembunyi.

Kehidupan saya terus berlanjut, singkat cerita papa saya berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Sejak kejadian itu, usaha papa saya mengalami kemunduran sampai memaksanya untuk lebih lama tinggal di luar kota. Hal ini membuat hubungan saya dengan papa saya menjadi lebih jauh. Singkat cerita saat semuanya sudah menjadi lebih baik dan mungkin luka saya sudah sedikit terobati seiring dengan berjalannya waktu, pada kelas 1 SMP tiba – tiba ada beberapa orang yang datang ke rumah saya. Mereka berbicara kalau papa saya sudah menipu, dan yang paling tidak saya sangka adalah mereka menunjukkan kepada saya foto pernikahan papa saya dengan wanita lain! Jelas pada saat itu hati kecil saya antara percaya dan tidak percaya, bahkan sampai sekarang pun saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, apakah mereka hanya sekedar menipu atau bagaimana. Yang jelas usaha papa saya bisa dibilang berada di titik minus sampai mengharuskan papa saya pergi ke luar negeri untuk kabur dari kejaran orang – orang yang mempunyai masalah dengannya. Bagaimana dengan saya? Saya dan keluarga saya yang lain juga harus pindah ke luar kota untuk menghindari orang – orang tersebut. Hampir tidak ada barang yang tersisa yang keluarga saya punya karena seisi rumah saya pun dijarah oleh orang – orang tersebut. Semua kejadian ini membuat hati saya terpukul dan luka di dalam hati saya kembali timbul. Luka ini bukanlah luka biasa, bisa dibayangkan bagaimana papa saya bisa dibilang mengulangi kesalahan yang sama dua kali, bahkan kali ini papa saya membawa saya dan keluarga saya yang lain ke dalam masalahnya.

Tetapi saya tahu satu hal, mama saya adalah mama yang luar biasa, tidak peduli seberapa sakitpun dia, tetap ada pengampunan di dalam hatinya. Hal ini yang membuat saya belajar untuk “merelakan” semua yang terjadi. Merelakan di sini tidak sama dengan mengampuni, bisa dikatakan saya mungkin memaafkan tetapi hanya sekedar di mulut saja. Singkat cerita lebih dari 5 tahun saya hanya tinggal dengan mama dan kedua adik saya. Walaupun papa saya sangat sering menelepon dari luar negeri, saya berbicara dengannya setiap hari hanya seperti basa basi saja, toh itu masih papa saya dan papa sayalah yang membiayai keluarga saya dengan mengirimkan uang setiap bulan. Saya benar – benar tidak sadar kalau saya masih menyimpan kebencian kepada papa saya, saya tidak pernah benar – benar mengampuni papa saya. Tentu saya tetap beribadah setiap Minggu bahkan pengetahuan saya tentang alkitab bisa dikatakan lumayan untuk anak seumuran saya, namun hal itu ternyata tidak menjamin kalau saya bisa mengampuni.

Tahun demi tahun berlalu tanpa saya dapat benar – benar mengampuni papa saya. Saya menganggap jika papa saya tidak pernah melakukan kesalahannya, mungkin hidup keluarga kami akan tetap bahagia dan yang lebih penting lagi tetap utuh bersama – sama. Semua berjalan begitu saja sampai suatu titik kasih Tuhan Yesus menjamah hati saya, itulah titik dimana saya dapat benar – benar merasakan kasih Tuhan Yesus yang sangat besar kepada saya. Di sinilah titik balik dimana saya dapat MENGAMBIL KEPUTUSAN untuk mengampuni. Mungkin pada saat itu saya duduk di kelas 2 SMA. Saat saya mengambil keputusan itu, saya langsung meminta papa saya untuk menelepon saya (papa saya masih bekerja di luar negeri) dan saya mengungkapkan bagaimana saya benar – benar mengampuni dan mengasihi papa saya. Air mata bahagia kami berdua mengalir begitu saja, ini adalah titik dimana hubungan yang sudah putus dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Melalui pengampunan, hubungan yang rusak dapat kembali dipulihkan. Sama seperti pengampunan dari Tuhan Yesus Kristus di kayu salib yang memulihkan hubungan yang rusak antara manusia dengan Allah karena dosa.

Sekarang papa saya sudah pulang dan kami sudah tinggal bersama. Perlahan tapi pasti kondisi keluarga kami dipulihkan. Saya tidak pernah membayangkan bagaimana jika pada waktu itu mama saya tidak mengampuni papa saya dan minta untuk berpisah. Saya juga tidak membayangkan kalau adik perempuan saya tidak segera mengampuni papa saya, mungkin papa saya akan lebih terpukul lagi. Mama dan adik perempuan saya memberikan contoh kepada saya bagaimana mengampuni. Dan pada akhirnya Tuhan Yesuslah yang mengajarkan saya bagaimana caranya untuk mengampuni, yaitu dengan merasakan kasih-Nya dan mengambil keputusan untuk mengampuni. Tanpa Tuhan Yesus dan pengampunan, mungkin keluarga saya tidak akan dipulihkan seperti sekarang ini. Mungkin saya tidak akan bisa menceritakan hal ini. Dan mungkin saja kepahitan saya membuat saya tidak mau melayani-Nya.

Sejak saat itu, saya belajar tentang yang namanya pengampunan. Sedikit demi sedikit Tuhan Yesus mengubahkan hati saya. Jika Tuhan Yesus dapat mengubah hati saya, saya yakin Tuhan yang sama juga yang akan mengubah hati kamu yang baca ini. Jadi apakah kita masih mau menyimpan luka di hati kita? Rasakanlah kasih Tuhan Yesus yang begitu besar di dalam hidup kita dan AMBIL KEPUTUSAN untuk mengampuni sekarang. Mengampuni memang tidak mengubah orang lain, tetapi mengampuni dapat merubah diri kita. Percayalah, walaupun orang lain yang kita benci sudah berubah, selama kita tidak mau mengambil keputusan untuk mengampuni, maka akan tetap ada luka di hati kita. Dalam beberapa kasus, pengampunan tidak hanya mengubah diri kita, tetapi juga mengubah orang lain yang kita ampuni. Jadi, sekali lagi saya katakan, jika masih ada luka di hati kita, AMBIL KEPUTUSAN sekarang juga untuk mengampuni. Mungkin kita dapat mulai dengan mendoakan mereka dan memberkati mereka, belajar untuk mengasihi mereka yang menyakiti kita.

-N.L.H-

7 komentar: