1. Apakah Kita Keturunan Monyet

Kita sering membaca atau mendengar di media televisi, radio, internet, surat kabar dan lain-lain, bahwa manusia sudah mulai berevolusi dari sejenis monyet lebih kurang 3 juta tahun yang lalu.

Biasanya, pemberita informasi seperti itu, sangat percaya beritanya dan dengan sangat semangat serta meyakinkan, menceritakan riwayat keturunan manusia itu seolah-olah adalah fakta yang sudah terbukti dan tak terbantah lagi. Dalam seri ini, pada tulisan seri ALKITAB dan ILMU PENGETAHUAN, kita akan membahas dan menyelidiki informasi yang dikemukakan itu dan melihat, kalau benar terbukti, ataukah itu hanya merupakan suatu sistem kepercayaan, filsafah atau mungkin juga suatu ilmiah yang sungguh benar. Setiap bulan kita akan melihat beberapa segi pengetahuan dan bukti supaya kita bisa menjawab banyak pertanyaan penting tentang ‘eksistensi’ atau keberadaan kehidupan manusia di atas bumi.
* Apakah kita diciptakan Tuhan atau hanya hasil proses alam yang mengubahkan kehidupan dari batu mati menjadi organisme hidup yang berubah sekian milyar kali hingga akhirnya ada manusia?
* Yang mana terlebih dulu – ayam atau telur?
* Apakah nenek moyang kita adalah monyet?
* Apa benar bumi berumur milyaran tahun? Bagaimana menurut bukti ilmu pengetahuan dan Alkitab?
* Apakah Alkitab benar mencatat kisah sejarah Allah atau hanya dongeng belaka?
* Apakah ada kehidupan setelah kematian?
* Apakah manusia pernah hidup bersama dinosaurus dan apakah ada dinosaurus di bahtera Nuh?
* Bagaimana dengan nabi Yunus? Apa sungguh hidup di dalam ikan paus atau ikan besar?
* Dan banyak pertanyaan yang lain

Mengapakah Topik ini Penting?
160 tahun yang lalu, ada beberapa ilmuwan yang ingin mengetahui apa keberadaan manusia adalah hasil rencana Allah atau hasil proses alamiah tanpa adanya Allah. Dua ilmuwan yang penting di dalam penyelidikan itu adalah Dr. Charles Darwin dalam bidang biologi (ilmu hayat) dan Dr. Charles Lyall dalam bidang geologi (ilmu bumi).
Kedua ilmuwan itu ingin membuktikan bahwa asal usul dan sejarah bumi tidak ada sangkut paut dengan Tuhan. Mereka sudah yakin bahwa segala sesuatu ada, sebagai hasil proses alamiah tanpa perlu adanya Tuhan. Tujuan mereka telah memiliki akibat-akibat yang sangat besar sebagai berikut:
1. Kalau asal usul segala sesuatu adalah proses alam, maka tidak lagi memerlukan Tuhan sebagai pencipta, dan kalau Tuhan bukan pencipta, mungkin tidak ada Tuhan.
2. Kalau kita adalah hasil proses alam, yang telah mulai dengan suatu ledakan besar (big bang) yang menghasilkan alam semesta dengan semua bintang, planet, komet, meteor, asteroid dan sebagainya yang kemudian mendingin dan membatu, maka tidak ada sumber moralitas. Batu-batu di bumi, lewat proses kimia secara kebetulan berubah dari mati menjadi hidup lalu sel-sel sederhana, secara kebetulan, berubah menjadi rumit, dan yang tidak berakal berubah, dengan sendirinya, dan menjadi berakal, dan yang tidak bisa berkembang biak, dengan sendirinya, berubah dan menjadi sanggup berkembang biak. Proses ini terjadi milyaran kali selama milyaran tahun sehingga menghasilkan Anda dan saya! Tuhan tidak lagi diperlukan dan manusia yang berasal dari yang tidak ada, dengan sendirinya menjadi Allah yang sanggup mengendalikan segala sesuatu.
3. Karena proses ini, yang disebut evolusi atau Darwinisme, menuntut bahwa yang lebih kuat menggantikan yang lebih lemah, maka faham ini sangat mendukung rasisme bahwa ras-ras ‘superior’ harus melenyapkan ras-ras yang ‘inferior’. Inilah dasar Adolf Hitlet pada Perang Dunia Ke-2 ingin melenyapkan kaum Yahudi. Inspirasi Hitler adalah bukunya Charles Darwin yang sub-judulnya adalah: The Preservation of Favoured Species (preservasi atau pengawetan jenis-jenis yang terkuat).
4. Kalau bumi sudah milyaran tahun tuanya dan manusia sudah mulai berevolusi 3 juta tahun yang lalu, maka Alkitab adalah tidak benar dan iman kita sia-sia. Alkitab menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan khusus menurut gambar dan rupa Allah sendiri, dan bahwa penciptaan langit dan bumi telah terjadi lebih kurang 17.000 tahun lalu. Di sini terjadi tabrakan dua filsafah yang sangat menentukan pola iman dan dasar moralitas dalam kehidupan manusia. Kalau filsafah bahwa kita adalah hasil kebetulan dari alam semesta, maka Alkitab adalah omong kosong dan kita menipu diri sendiri kalau percaya Alkitab. Kalau Alkitab adalah benar, dan kita adalah hasil ajaib dan khusus dari Tuhan, di mana buktinya dan bagaimana kita bisa rekonsiliasi apa yang diajarkan sains dengan apa yang diajarkan Alkitab?
Dalam seri ini, saya akan menunjukkan untuk kita ketahui dan sadari, bahwa Ilmu Pengetahuan yang sebenarnya sangat mendukung kebenaran Alkitab dan bahwa kita bukan akibat proses alam tetapi kita adalah hasil mulia dari proses Desain Intelijen (Intelligent Design), yaitu sebagai ciptaan khusus dari Sang Pencipta. Saya yakin seri ini akan membuka mata kita, sehingga melihat keindahan Tuhan dalam ciptaan-Nya dan ketepatan-Nya, dalam semua catatan Firman-Nya.

Dua Filsafah – Dua Sistem Keyakinan
Filsafah pertama dapat saja disebut Darwinisme atau Evolusi

Dr. Charles Darwin sangat tertarik dengan teori uniformitarianisme yang dipopulerkan oleh Dr. Charles Lyall, dimana Lyall telah mengemukakan bahwa semua lapis batu dan tanah, satu di atas yang lain, adalah hasil proses alam selama milyaran tahun, sedikit demi sedikit diletakkan, dan bahwa fosil-fosil yang ditemukan di dalam lapisan itu adalah catatan sejarah. Darwin, dalam bidang biologi, sangat tertarik dengan penjelasan Lyall sehingga dia mengkaitkan umur fosil dan perbedaan spesis sebagai hasil proses perubahan biologis selama milyaran tahun, dan lapisan-lapisan batu adalah catatan sejarahnya. Untuk Lyall, fosil-fosil adalah catatan sejarah yang membuktikan umur batu-batu sedangkan untuk Darwin, lapisan-lapisan batu adalah catatan sejarah yang membuktikan umur fosil-fosil.
Dalam sistem Darwinisme tidak ada perbedaan antara evolusi makro (perubahan dari kelinci ke kuda) dan evolusi mikro (perubahan sesuai genetika sehingga ada banyak jenis anjing, banyak jenis kucing dan sebagainya, tetapi perhatikanlah bahwa anjing tidak pernah menjadi kucing!).
Sistem keyakinan ini, akhirnya, memperkuat faham atheisme, karena untuk penganutnya, membuktikan bahwa kita tidak perlu Allah. Kalau tidak ada Allah, maka tidak ada hukum moralitas, dan manusia hanya bersifat binatang. Akibatnya adalah banyak manusia sekarang lebih senang hidup sebagai binatang dalam moralitas hidupnya. Dengan demikian, Darwinisme menolak konsep penghukuman atas dosa, air bah di zaman Nuh dan kedatangan kembali Yesus. Bandingkan dengan 2 Petrus 3:3-7 dan 1Timotius 6:20-21.

Filsafah kedua disebut Penciptaan Khusus
Dalam filsafah Alkitabiah ada perbedaan besar antara evolusi makro dan evolusi mikro. Evolusi makro adalah keyakinan bahwa satu kelompok jenis besar bisa berangsur-angsur berubah menjadi kelompok jenis yang lain. Misalnya, ikan menjadi amfibi, amfibi menjadi reptilia dan reptilia menjadi burung atau menjadi mamalia. Kita akan melihat bahwa evolusi makro ini sama sekali tidak memiliki pembuktiannya yang benar, baik secara genetika maupun secara fosil dalam ilmu paleontologi.
Sebaliknya, evolusi mikro adalah kenyataan yang kita lihat tiap-tiap hari. Evolusi mikro adalah kapasitas genetika yang kelihatan di alam dan dalam catatan fosil, bahwa setiap spesis atau jenis mampu mengalami perubahan-perubahan kecil sesuai dengan batas genetikanya atau DNA-nya. Contohnya: Manusia bisa banyak variasinya tetapi manusia selalu manusia, apapun dia Afrika, Asia atau Eropa. Monyet dan kera memiliki ratusan variasinya dan dapat berubah sesuai genetikanya tetapi monyet selalu monyet. Sama halnya dengan kucing, anjing, kuda dan semua spesis lain di planet kita. Evolusi mikro tidak bertentangan dengan Alkitab.
Dalam perdebatan antara faham Darwin dan Alkitab, ini adalah salah satu kunci. Darwin mengajarkan evolusi makro namun hanya dapat menggunakan contoh evolusi mikro. Hal ini kita akan bahas dalam edisi-edisi berikut.

Tujuan Akhir Faham Evolusi
Faham Darwin, atau evolusi merupakan suatu serangan terhadap iman Kristen yang sangat penting dan merupakan serangan langsung terhadap Maksud Abadi Allah.
Tujuan akhir dari faham Darwin adalah manusia akan menjadi Allah!
Dalam faham Darwin itu, manusia telah mulai dari “nol besar” dan sedang mengalami perubahan kecil-kecilan yang akhirnya membuat manusia sama dengan Allah atau dengan kata lain, Manusialah yang menjadi pencipta. Manusia yang mengendalikan kehidupan dan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati (aborsi, euthanasia, dan nanti kematian wajib bagi yang berumur tua atau sakit berat), dan riset medis berusaha melenyapkan semua penyakit, sehingga manusia bisa hidup untuk selama-lamanya. Jadi manusia yang menjadi ‘master of his own destiny’ atau Allah yang menentukan masa depannya. Hal ini sama dengan keinginan Iblis pada waktu pemberontakannya terhadap Allah, Yesaya 14:12-14. Iblis mau menjadi Allah dan mau menipu manusia untuk ingin menjadi Allah, Kejadian 3:1-5.
Tujuan Iblis adalah tipu daya supaya manusia tidak memiliki visi yang benar. Dari semula Allah telah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” Kejadian 1:26. Di dalam Perjanjian Baru ini diungkapkan dalam kita menjadi serupa dengan Kristus, Roma 8:29; 2 Korintus 3:18, dan pada akhirnya, sebagai pemenang-pemenang, kita akan duduk bersama dengan Kristus di dalam takhta Allah, Wahyu 3:21. Iblis mau mencuri berkat ini dari kita dengan menghancurkan iman kita pada Firman Tuhan, dengan menyerang Firman Tuhan seolah-olah Firman Tuhan tidak benar, tidak relevan, kuno dan bohong.

Kesimpulan
Dalam seri ini, kita akan berjuang untuk mempertahankan kebenaran Firman dan menunjukkan bukti-bukti bahwa iman kita bukan sia-sia dan bahwa ilmu pengetahuan adalah sekutu kita dan bukan musuh kita.
Demi mempertahankan kebenaran kita perlu menyelidiki semua bukti yang dikemukakan tentang asal usul kehidupan, umur bumi, lapisan-lapisan sedimen-sediment, fosil-fosil, keberadaan dinosaurus, yang disebut manusia-kera dan banyak hal lain. Kita akan menyelidiki bukti-bukti ilmiah dan Alkitabiah bahwa bumi adalah muda dan tidak tua. Kita akan melihat bukti bahwa kita ada di sini karena desain yang intelijen dan bukan secara kebetulan. Dan kita akan buktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tetap dapat dipercaya sebagai sumber kebenaran, pedoman dan pengarah kehidupan yang membawa kepastian keselamatan bagi semua orang yang percaya Yesus Kristus adalah Tuhan Allah dan satu-satunya Juruselamat manusia.
Selamat menikmati seri ALKITAB DAN ILMU PENGETAHUAN.

Sumber

3 komentar:

  1. Saya coba ikut komentar, boleh kan ? Dan langsung saja pada point-nya. Coba kita perhatikan Kejadian 2 : 18 - 21 tentang rencana Allah menciptakan seorang penolong bagi Adam yakni Hawa. Reancana Allah di ayat 18 tidak langsung ke ayat 21 dimana pelaksanaan Hawa diciptakan tetapi ditunda dulu pada ayat 19-20 dimana Alah menciptakan segala bentuk hewan bahkan Adam-lah yg kemudian memberi nama pda binatang-binatang terebut. Jadi kesimpulan saya ialah bagaimana mungkin Adam itu akibat evolusi dari monyet ? sebab Adam sudah ada sebelum monyet ada. GBU

    BalasHapus
  2. kalau saya berpendapat bahwa hubungan logikai lmu pengetahuan dihadapkan dengan iman tidak bisa menyatu. karena pasti bertentangan. jadi untuk menjawabnya sulit. karena orang percaya hanya bisa menjawab dengan iman sesuai dengan pendapat penulis. terus yang jadi pertanyaan saya, jika penulis mengatakan bahwa ilmu tidak menjadi musuh, tetapi ilmu yang ada selalu memberikan penjelasan yang bertentangan dengan iman. terus sikap kita bagaimana ?

    BalasHapus