Terlajur Sayang

“Kak, saya tahu pacaran beda iman itu tidak benar. Saya tahu ayat Alkitab yang bilang gelap dan terang tidak bisa bersatu, tapi pacar saya yang lain agama ini orangnya baik kak, saya berat memutuskan hubungan dengannya. Maunya saya sama yang seiman tapi nggak ada yang bisa ngertiin saya selain dia kak. Saya pernah mencoba putus tapi selalu balik lagi. Saya rasanya tidak bisa hidup tanpa dia. Kayaknya udah terlanjur sayang kak, gimana ya?”

“Kak, saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria, saya lagi bingung kelanjutannya. Hampir tiap hari ada konflik dan bahkan sudah sampai ada kekerasaan secara fisik. Teman dan orang tua sudah sarankan untuk putus aja karena pacar saya ini kalau marah kasar sekali, kata mereka berbahaya kalau sudah menikah, bisa KDRT . Tapi masalahnya, kalo habis konflik berat terus dia datang baikin saya, bilang maaf dan katanya masih sayang sama saya, saya jadi luluh mau menerima dia lagi. Begitu berulang-ulang. Saya kasih kesempatan tapi dia tidak berubah-berubah. Saya mulai frustrasi. Saya ingin putus tapi nggak bisa. Mungkin karena rasa sayang saya ya, sudah terlanjur dalam, jadi susah hilang. Gimana ya, kak? “

Pernah mendengar curhatan seperti ini atau justru sedang mengalaminya? Mengapa walaupun sudah menyadari memiliki hubungan yang tidak sehat, tidak berkualitas, tidak sesuai dengan nilai hidup dan menyakitkan, orang tetap tidak bisa mengambil keputusan untuk keluar dari hubungan tersebut? Apakah alasannya karena benar-benar sangat menyayangi/mencintai pacarnya? Sudah terlanjur sayang?

Dalam proses pengambilan keputusan, termasuk untuk memutuskan hubungan atau tetap bertahan dalam suatu hubungan, orang dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yang mendominasi dan menguasai hidupnya (dominant thought). Pikiran-pikiran itu biasanya merupakan pikiran bawah sadar yang sudah terbentuk dari pengalaman hidup dan nilai-nilai yang tertanam sejak masa kecilnya sampai sekarang. Salah satu pengalaman yang akan sangat mempengaruhi adalah pengalaman bersama dengan orang-orang di lingkungan pertama kehidupan seperti dengan keluarga. Kumpulan pikiran tersebut akan membentuk mindset kita dan akan mempengaruhi perilaku dan perasaan kita.

Dalam contoh kasus diatas sebenarnya penyebabnya bukan semata-mata kita sudah terlanjur sayang dengan seseorang, namun kita sudah mengalami fase hubungan yang mengikat atau kecanduan (addictive relationship) yang dibungkus oleh perasaan sayang (menurut kita), bukan kasih sayang yang murni. Fase ini merampas kebebasan kita dalam membuat keputusan, mengekang kita untuk menjadi diri sendiri, merenggut kebebasan kita untuk mencintai seseorang melalui pilihan tetapi lebih karena ketergantungan.

Berikut ini ada contoh 6 pemikiran yang membuat seseorang sulit memutuskan hubungan dengan pacarnya walaupun ia sadar bahwa ia berada dalam hubungan yang buruk. Pikiran-pikiran ini jika tertanam secara mendalam bisa menyebabkan kita mengalami addictive relationship. Pikiran ini bisa disadari oleh orang itu, namun juga tidak disadari karena ada di dalam bawah sadarnya yang tertutup oleh hal-hal yang di permukaan.
1. Saya tidak akan menemukan orang yang lebih baik
Pikiran ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki rasa keberhargaan diri (self esteem) yang rendah. Jika dihubungkan dengan pengalaman masa lalu, kemungkinan ia kurang mendapat kasih sayang dari orang tua atau orang-orang di kehidupan awalnya. Ia merasa tidak cukup menarik, tidak cukup dapat membuat orang lain jatuh cinta kepadanya. Maka, ia cenderung mempertahankan hubungan dengan pacarnya sekarang, walaupun menyakitkan.

2. Saya tidak ingin sendiri/takut kesepian
Ada orang yang merasa takut jika hidup sendiri. Ia akan merasa kesepian bila tidak ada orang di sampingnya. Ia juga takut sendiri karena tidak terdidik untuk mandiri, termasuk untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Atau, orang tidak ingin hidup sendiri karena takut dicap sebagai perawan atau perjaka tua serta dinilai tidak normal oleh masyarakat.

3. Saya ingin dinilai baik oleh lingkungan sosial
Keinginan untuk mendapat penerimaan dari lingkungan sosial membuat kita melakukan hal yang secara sosial dijadikan nilai yang harus diikuti. Walaupun belum tentu benar dan tidak sesuai ajaran firman Tuhan, namun bila hal tersebut telah melekat di pikiran kita maka kita seolah-olah akan “ditetapkan” untuk tidak memutuskan hubungan yang buruk. Contohnya seperti “kita gagal jika kita mengakhiri hubungan”, “cinta itu selamanya”, “kita harus punya pasangan hidup”, “kita tidak boleh menyakiti siapapun”, “kita tidak akan bahagia hidup sendiri”, dan lain-lain.

4. Pacar saya akan berubah
Seseorang bisa berada dalam harapan dan khayalan bahwa pacarnya yang berperilaku buruk suatu saat akan berubah menjadi baik. Ia bahkan akan menekankan pada dirinya sendiri untuk bersabar dan berperilaku lebih baik kepada pacarnya agar pacarnya dapat berubah. Ia mengabaikan penjelasan bahwa perilaku adalah hal yang sulit dirubah apalagi bila sudah menjadi karakter dan kebiasaan. Perilaku yang buruk biasanya juga akan bertambah buruk seiring dengan semakin dalamnya suatu hubungan.

5. Pacar saya membutuhkan saya
Pada dasarnya orang senang dibutuhkan, apalagi wanita, yang secara alamiah senang memperhatikan orang lain. Wanita cenderung akan merasa berharga bila pacarnya menunjukkan kebutuhan yang tinggi akan peran dan perhatiannya. Sehingga, ia pun bersedia berkorban untuk itu. Padahal wanita yang terlalu memberi perhatian kepada pacarnya biasanya sebenarnya justru adalah wanita yang terlalu membutuhkan perhatian. Ia memiliki ketergantungan emosi dengan pacarnya sehingga berusaha mengikat pacarnya dengan perhatiannya. Ada juga pemikiran bahwa ia tidak tidak bisa putus dengan pacarnya karena khawatir pacarnya akan lebih buruk bila ia tidak mendampinginya.

6. Saya membutuhkan pacar saya
Ada orang-orang yang mempertahankan hubungan walaupun buruk secara emosional karena ia melihat hal-hal lain yang ia pikir bisa didapat dari pasangannya, seperti kebutuhan materi, seks, status sosial, dan lain-lain. Ia memiliki pemikiran bahwa hal-hal itu dapat memberinya kebahagiaan, sehingga walaupun hubungan berjalan dengan buruk, ia tidak mau melepaskan hubungan itu, karena khawatir kehilangan semua hal yang ia butuhkan itu.

Bagaimana jika Anda mengalami semua ini? Apa langkah-langkah yang perlu dilakukan agar Anda dapat mengambil keputusan untuk keluar dari hubungan yang buruk dan tidak sehat ini?
1. Temukan pikiran-pikiran utama (dominan thought) yang mendasari Anda mempertahankan hubungan yang tidak sehat atau menyakitkan tersebut. Anda perlu mencari dan merenungkannya karena hal tersebut terletak di dasar pikiran, di alam bawah sadar. Anda dapat meminta bantuan dari orang yang dapat dipercaya untuk menggalinya, termasuk bila perlu, seorang psikolog atau psikiater yang tepat.

2. Akui pikiran-pikiran yang salah yang telah mempengaruhi perilaku dan perasaan Anda. Selanjutnya, ganti pikiran yang lama dengan pikiran baru dan benar, yaitu pikiran Kristus, pikiran yang sesuai dengan firman Tuhan. Mulai dari membaca dan mendengar firman Tuhan. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rm. 10:17). Firman yang kita dengar dan baca tidak boleh hanya berhenti di titik logos (pengetahuan) saja, tapi harus direnungkan dan dipraktekkan sampai menjadi rhema (pewahyuan pribadi) dan masuk ke pikiran bawah sadar. Bila hal ini telah terjadi dengan sendirinya pikiran dan perasaan Anda akan berubah sesuai firman Tuhan.

3. Jangan berfokus pada perasaan saja: ingin memaklumi, mengatasi dan menghilangkan perasaan. Paradoksnya adalah, semakin kita berusaha untuk menghilangkan atau melupakan justru semakin kuat perasaan itu akan muncul dan mengaburkan kebenaran yang ingin kita dapatnya. Fokuslah untuk mengisi pikiran bawah sadar Anda dengan pikiran-pikiran firman Tuhan sampai menjadi rhema.

4. Terbukalah terhadap pendapat dan saran dari orang-orang yang Anda tahu memiliki kebijaksanaan dan kedewasaan rohani. Jika belum memiliki orang-orang semacam ini, cari dan mintalah mereka untuk menolong Anda. Jadikan semua masukan itu sebagai tambahan isi pikiran kita, supaya kita juga memiliki kebijaksanaan untuk mengambil keputusan yang benar.

5. Sadari bahwa Anda adalah ciptaan yang baru. Rasul Paulus dalam Roma 7:19 berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Bukan hanya Anda yang mengalami pergumulan untuk melepaskan pikiran bawah sadar yang negatif atau merusak, Paulus pun juga mengalaminya. Namun, Paulus bisa menang dengan menyadari bahwa ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 15). Paulus juga senantiasa mengalami pembaharuan pikiran (Rm. 12:2) sampai pada satu titik di mana ia bisa mempunyai kehendak yang kuat yang berkenan di hadapan Tuhan. Ketika kita sudah mulai mendapat pikiran baru yang sesuai dengan pikiran Kristus, yang bertentangan dengan pikiran yang selama ini mencengkram kita, kita akan mulai dapat berpikir lebih rasional sehingga kita lebih memiliki daya untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat.

6. Putuskan hubungan yang buruk itu. Memang bagaimanapun situasinya, ini bukan hal yang mudah karena sudah menyangkut perasaan/hati serta sudah tertanam lama di diri Anda. Dalam prosesnya Anda memang akan merasa sedih, marah, takut, bimbang, dan lain-lain yang bercampur-aduk. Terima perasaan itu dan sediakan waktu bagi diri sendiri juga untuk berpindah dari perasaan sebelumnya ke perasaan yang baru, seiring dengan bertambahnya pikiran baru dalam diri Anda. Prosesnya dapat terasa lambat dan menyakitkan, namun bila Anda mengambil keputusan yang benar, hidup Anda akan menjadi lebih baik.

7. Miliki teman-teman dan sahabat yang bisa menolong dan mendampingi Anda dalam menghadapi masalah. Masuklah dalam komunitas sejati yang orang-orangnya juga mengasihi Tuhan, yang ingin hidup Anda lebih baik. Anda akan lebih kuat menghadapinya.

8. Miliki iman bahwa di dalam Tuhan Anda tidak akan dikecewakan. Menyenangkan hati Tuhan harus menjadi fokus dan kerinduan Anda. Dengan melepaskan hubungan yang buruk, Anda terbebas dari beban untuk mengurusi hal-hal yang sia-sia, dan bisa berfokus untuk membangun hidup Anda menuju panggilan yang Tuhan sediakan.

 
Heppida Sinaga, Psi dan Antonius Kurniawan ST

Sumber

3 komentar: