Yakin, Kamu Sudah Siap Pacaran

Kita sering mendengar beberapa sebutan ini: dating, pacaran, PDKT (pendekatan), dsb. Apa pun sebutannya, yang dimaksud di sini adalah hubungan spesial dengan seorang lawan jenis sebelum memasuki pernikahan dengannya. Apa yang menentukan kesiapan kita untuk mulai menjalin hubungan khusus ini? Apakah kita siap jika sudah menginjak usia tertentu? Apakah kita siap jika telah memiliki saldo tabungan yang cukup besar? Apakah kita siap jika kita sudah mulai memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis? Ataukah kesiapan ini sebenarnya hanya merupakan konsep yang dilebih-lebihkan saja, dan kita sebenarnya boleh-boleh saja “mengalir” tanpa banyak aturan mengikuti keinginan untuk mulai berpacaran? Ternyata bukan semua ini penentunya. Myles Munroe dalam bukunya “Waiting and Dating” menjelaskan bahwa bukan  alasan-alasan tersebutlah yang menjadi tolok ukur apakah kita sudah siap dating atau belum, tetapi justru tiga prinsip di bawah inilah yang perlu jadi perhatian utama bagi kita yang sudah lama tertarik pada seorang lawan jenis dan berencana segera dating dengannya... Yuk, kita lihat satu per satu, supaya kita benar-benar siap, bukan hanya merasa siap!

PRINSIP PERTAMA

“Kamu belum siap dating sampai kamu sadar sepenuhnya tentang kegunaan dan bahaya dari dating.”

Saat kita sudah memahami bukan hanya gunanya dating tetapi juga berbagai jebakan berbahayanya, itu artinya kita sudah cukup dewasa untuk mulai melakukan PDKT demi menjalin hubungan yang lebih khusus dan serius.

Kegunaan utama dari dating adalah kesempatan untuk mengenal seseorang yang baru, membangun persahabatan baru dengan sahabat dari jenis kelamin yang berbeda. Ini penting sekali, karena proses ini membantu mengembangkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan berinteraksi kita. Selain itu, melalui proses dating, kita akan belajar saling menghargai sebagai pribadi-pribadi yang punya harga diri dan martabat yang sehat.

Tetapi, hati-hati! Di samping guna atau manfaatnya, dating juga memiliki berbagai jebakan yang berbahaya. Di peringkat pertama dari daftar jebakan dating adalah bahaya menjadi terlalu cepat intim baik secara fisik ataupun emosional pada tingkat yang terlalu dalam, yang akan menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari.

Manusia adalah makhluk sosial, dan kita saling berhubungan pada tiga tingkat: roh, jiwa dan tubuh. Dengan kata lain, kita saling berinteraksi dalam dimensi rohani, jiwani dan jasmani. Urutan ini sangat penting. Hubungan-hubungan yang sehat seharusnya selalu dimulai pada tingkat rohani dan jiwani/intelektual (keinginan, motivasi, minat, kepribadian dan visi), bukan pada tingkat jasmani (kedekatan/kontak fisik). Dimensi jasmani adalah yang paling tidak penting di antara ketiganya, namun dari sanalah biasanya kita memulai dating. Ketertarikan fisik menjadi godaan terbesar dalam dating, padahal ketertarikan fisik akan segera diikuti dengan keterikatan emosi yang mendalam, padahal pasangan tersebut bahkan belum berkesempatan untuk menemukan kesamaan minat, impian atau visi. Saat perbedaan-perbedaan tersebut muncul, hubungan menjadi sulit, karena mereka sudah terlanjur intim secara emosional dan fisik.

Jadi, sebelum mulai dating, tanyakan dulu kepada diri sendiri, “Apa aku benar-benar sudah mengerti kegunaan sekaligus bahayanya jika aku dating dengan dia?” Memang sulit menahan perasaan hati jika kita harus bertanya dulu, apalagi bagi kita yang terlanjur jatuh hati. Jika masih bingung, silakan tanyakan kakak – kakak rohani kita, apakah kita benar – benar sudah siap untuk dating?

PRINSIP KEDUA

“Kamu siap untuk dating kalau kamu sudah paham standar Tuhan bagi hubungan dengan lawan jenis.”

Kita perlu mempelajari serangkaian pedoman yang jelas tentang cara-cara dating berdasarkan firman Tuhan. Tentu saja, ini membutuhkan kedewasaan rohani tertentu. Ingat, hanya orang yang sudah dewasa yang tidak mudah tertipu, dan hanya kebenaran firman Tuhanlah yang sanggup mendewasakan kita.

Amsal 21:2 berkata, “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Penipu yang paling ulung adalah manusia lama kita, alias prinsip-prinsip umum yang ada di dunia ini yang dulunya kita percayai, tentang PDKT/dating.

Ingat, dating bukanlah ajang uji coba. Jangan coba-coba mulai melanjutkan hubungan ke tahap yang serius dengan siapa pun sampai kita betul-betul mengerti apa yang menjadi harapan dan standar Tuhan bagi hubungan itu. Jika kita masih ragu-ragu dengan standar yang ada, cari tahu terlebih dahulu.

PRINSIP KETIGA

“Ikuti terus pedoman dari prinsip kedua.”

Setelah memiliki iman atas standar-standar Tuhan dari Alkitab tentang membangun hubungan dengan lawan jenis, pastikan dalam roh kita bahwa kita tidak akan menurunkan atau mengkompromikan standar-standar tersebut demi alasan apa pun, bahkan termasuk jika kita harus kehilangan dia yang kita sayangi itu.

Banyak orang rela mengkompromikan standar firman Tuhan demi mendapatkan orang yang disukai atau mempertahankan agar dia tetap menjadi “milik”, namun itu sebenarnya adalah sikap kekanak-kanakan dan menyebabkan banyak masalah. Kita perlu berdiri teguh di atas kepercayaan iman kita, dan ini adalah tanda kedewasaan rohani dan emosional kita. Tuhan Yesus menghendaki yang terbaik bagi kita, maka jangan menawarkan diri kita terlalu “murah” hanya demi mendapatkan orang yang kita idam-idamkan itu. Ingat, untuk bisa mendapatkan diri kita saja, Yesus rela mengorbankan diriNya sendiri. Karena itu, tentu Dia rela melakukan segala cara supaya kita mendapatkan yang terbaik di dalam hubungan lawan jenis.

 

Sumber

3 komentar: