Sejarah Konflik Timur Tengah 3

Palestina di Zaman Romawi - Zaman Roma-Byzantin (63 sM-638M)

Selama hampir tujuh abad antara 63 sM dan 638 M, wilayah Palestina terjepit di antara dua kerajaan besar yaitu antara Kerajaan Farsi dan Kerajaan Roma/Byzantin. Menurut ahli sejarah Timur Tengah, Bernard Lewis, persaingan antara Farsi dan Roma-Bizantin, menjadi hal utama dalam percaturan politik di kawasan tersebut sampai kebangkitan Khilafah Islam, yang menghancurkan Kerajaan Farsi dan melemahkan Kerajaan Roma-Bizantin, sehingga mereka terpukul mundur dari Timur Tengah.

Roma Berkuasa

Pada tahun 63 sM, tentara Roma yang dipimpin oleh Jenderal Pompey telah memasuki dan menguasai wilayah Palestina, sehingga Kaisar Julius yang berkuasa dari Roma ke Palestina bahkan di Mesir. Kuasa   Kerajaan Roma telah meluas dan bertambah sehingga pada tahun 37 sM Herodes Agung diangkat menjadi raja jajahan Roma itu. Raja Herodes telah memerintah atas seluruh Palestina dari tahun 37 sM sampai tahun kelahiran Yesus, 4 sM.

Dalam pemerintahan Romawi, Yerusalem bertambah besar ke arah utara. Proyek pembangunannya termasuk Tembok Kedua, Bait Suci Herodes, Benteng Antonia dan Menara Daud. Juga didirikan istana-istana dan gedung umum seperti pasar, toko dan teater. Walaupun Tanah Palestina dikuasai oleh Kerajaan Roma, Bait Suci dibangun kembali lebih besar dan lebih megah daripada Bait Suci di zaman Salomo.

Setelah Israel mengalami masa perhambaan Asyur, Babel, Mesir, Media-Farsi dan Yunani, kini giliran Roma menjajah wilayah Israel-Palestina dan ternyata ini menjadi masa pahit bagi Israel yang tidak lama kemudian mengalami penghancuran dan penyingkiran ke berbagai bangsa lain.

Yesus dan Kerajaan Allah

Pada zaman Kerajaan Roma inilah Yesus lahir. Yesus telah hidup di wilayah Israel-Palestina dari tahun 4 sM sampai tahun 30 M. Dia lahir pada waktu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah sensus yaitu pendaftaran semua orang di seluruh dunia. Ini terjadi juga pada waktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Luk 2:1-2.

Mendahului pelayanan Yesus, Yohanes Pembaptis telah mulai memberitakan Kerajaan Allah pada tahun ke-15 Kaisar Tiberius. Pada waktu itu Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes Antipas menjadi raja wilayah Galilea, Luk 3:1. Pontius Pilatus yang kemudian memimpin pengadilan terhadap Yesus dan memerintahkan agar Dia disalibkan (Mark 15:1-15; Mat 27:2, 11-26; Luk 23:1-25; Yoh 18:28--19:31; Kis 3:13; 4:27; 13:28; 1Tim 6:13).

Sebelum Yesus disalibkan ada pemberontak-pemberontak Yahudi yang melawan pemerintahan Roma. Ada yang mengklaim diri ”Mesias”. Jadi waktu Yesus disebut ”Mesias” juga Dia hanya dianggap sebagai salah satu pemberontak seperti yang lain sebelumnya dan agar menjamin kedaulatannya, penguasa Romawi memutuskan untuk menghukum mati Yesus. Para imam, ahli Taurat, Farisi dan Saduki mengemukakan bahwa Yesus telah mengklaim dirinya ”Raja” dan dengan demikian Dia adalah musuh Roma. Maka Yesus disalibkan sebagai seorang penjahat dan pemberontak terhadap otoritas Roma.

Penghancuran Bait Suci dan Kota Yerusalem

Ketidaksenangan Israel dengan Kerajaan Roma makin lama makin nyata sehingga hukuman Roma makin keras dan orang Yahudi makin ditindas. Akhirnya pemberontakan orang Yahudi, yang dipimpin kaum Zelot, terjadi pada tahun 66 M dan mereka mengusir penguasa Roma dan memerintah di Yerusalem sampai tanggal 9 bulan Av pada tahun 70 M.

Demi menyelamatkan bangsa Israel, umat Yahudi telah mempersembahkan ratusan ribu hewan sebagai korban kepada Tuhan dengan mengharapkan keselamatan dari Allah tetapi perbuatan itu sia-sia:

  • Karena Yesus telah menyatakan Bait Suci, yang dulu disebut ”Rumah Bapa-Ku”, Yoh 2:13-17, bukan lagi milik Allah tetapi telah menjadi milik Yahudi ”rumahmu” yang akan ditinggalkan sunyi senyap. Waktu Yesus keluar dari Bait Suci ternyata hadirat dan kemuliaan Allah pun keluar, Mat 23:37-24:1.
  • Waktu Yesus disalibkan, tirai Bait Suci dirobek dari atas ke bawah. Bapa telah merobeknya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa hadirat dan kemuliaan Allah tidak ada di dalam gedung Bait Suci, Mat 27:51.
  • Yesus bernubuat bahwa Bait Suci itu akan dihancurkan dan tidak akan tertinggal satu batu di atas yang lain. Ini akan mengekspos bahwa hadirat Allah tidak ada lagi di Bait Suci jasmani tetapi hadirat Allah sekarang ada di dalam Bait Suci rohani, Luk.21:5-6; 21:20-24;1Kor.3:16 ; Ibr.9:24 ;Why.11:19.

Pada tahun 70 M, Yerusalem dibumihanguskan oleh tentara Roma di bawah pimpinan Jenderal Titus, yang atas perintah ayahnya, Kaisar Vespasianus, mengalahkan kaum pemberontak itu dan menghancurkan dan membakar seluruh Yerusalem dan Bait Suci dibongkar sampai tidak ada satu batu sisa di atas yang lain. Yang tersisa hanya sebagian tembok barat Bait Suci, yang kini terkenal sebagai Tembok Ratapan.

Menurut ahli Talmud, Bamidbar Rabah, orang Yahudi sampai masa kini, tetap percaya ada Hadirat Allah (Kemuliaan Shekinah) di sana di tempat Bait Suci, dan bahwa Tembok Barat itu tetap menjadi tempat paling kudus bagi para penyembah Yahudi di Yerusalem. Lebih dari sejuta orang Yahudi atau 25% populasi tewas dalam peperangan itu dan 10% dijadikan budak. 50% lari menjadi pengungsi di berbagai bangsa di Eropa dan di Timur Tengah dan hanya 10-15% tertinggal di wilayah Palestina.

Pada waktu penghancuran Yersalem itu umat Kristen telah luput dan terpelihara karena mereka telah mentaati nasihat dan nubuat Yesus tentang serangan dan pembinasaan yang akan terjadi atas Yerusalem dan telah mengungsi dari Yerusalem sebelum serangan akhir tentara Roma, Mat 24:15-20; Luk 21:20-24.

Masada

Pemberontakan Israel dilanjutkan sampai terjadi tragedi di sebuah bukit di bagian padang pasir Yudea dekat Laut Mati yang disebut Masada.

Menurut Flavius Josephus, ahli sejarah Roma di abad pertama, Masada dibangun sebagai benteng pertahanan oleh Raja Herodes Agung namun kaum Zelot Yahudi, yang dipimpin Eleazar ben Simon berhasil mengalahkan tentara Roma di Masada sehingga menguasainya dari tahun 68 M. Pada tahun 70 M, beberapa Zelot dan orang Yahudi lainnya yang telah lari dari penghancuran Yerusalem telah berkumpul di Masada.

Lalu pada tahun 72 M, Gubernor Yudea Romawi Lucius Flavius Silva menyerang Masada dan mengalahkannya pada tanggal 16 April tahun 73 M. Daripada ditangkap dan menjadi budak, semua orang Yahudi di Masada telah bunuh diri. Maka berakhir pulalah Negara Yahudi II dan mayoritas besar orang Yahudi menjadi diaspora yang dicerai-beraikan di antara bangsa-bangsa menggenapi berbagai nubuatan Firman Tuhan, Luk 21:24; Ul. 28:64-67; Im 26:21-42.

Kaisar Hadrian

Pada tahun 118 M, Hadrian menjadi Kaisar Roma dan dialah Kaisar yang pertama yang toleran kepada orang Yahudi. Dia memberi izin untuk orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun Bait Suci. Mereka membuat persiapan membangun kembali Bait Suci itu, namun Kaisar Hadrian tiba-tiba menarik izinnya dan menyuruh mereka membangun di tempat lain. Dia juga mulai mengusir orang Yahudi ke Afrika Utara.

Sesudah Kaisar Hadrian meninggalkan Yerusalem, pada tahun 132-135 M pemberontakan Bar-Kokhba terjadi. Pada waktu itu masih ada kira-kira 6 juta orang Yahudi yang tinggal di daerah Kekaisaran Roma tetapi hanya 40% yang masih tinggal di Israel. Orang Yahudi yang masih belum mengungsi dari Israel ini mulai memberontak. Selama pemberontakan, orang Yahudi merebut banyak tanah tetapi akhirnya mereka dikalahkan dalam perang Bethar.

Pemberontakan Bar-Kokhba

Di bawah kepemimpinan Shimon Bar-Kokhba, orang Yahudi telah merebut 50 benteng di Palestina dan 985 kota dan desa, termasuk Yerusalem, dari tangan Kerajaan Roma. Mereka mencetak uang logam dengan perkataan “Kemerdekaan bagi Israel” ditulis dalam bahasa Ibrani. Bar Kokhba berhasil mengusir Roma dari Yerusalem dan Israel dan mendirikan negara Yahudi tetapi hanya untuk waktu yang sangat singkat saja. Kemudian datang tentara Roma besar dari Mesir, Inggris, Siria dan lain tempat. Dengan demikian orang Yahudi dikalahkan dan diusir. Sejarahwan Romawi, Dio Cassius, berkata bahwa 580,000 orang Yahudi dibunuh dalam perang itu dan banyak orang lain mati karena kelaparan, penyakit dan api.

Sesudah perang Bethar, orang Yahudi sudah kehilangan kemerdekaan. Banyak dijual sebagai budak dan dibawa ke Mesir. Kota dan desa Yudea tidak dibangun kembali. Nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina dan orang Yahudi dilarang tinggal di situ. Mereka hanya diizinkan masuk Yerusalem sekali setahun pada tanggal 9 bulan Av untuk meratapi kekalahannya. Nama Yudea diubah oleh Kaisar Hadrian menjadi Siria Palestina. Hadrian melarang pelajaran Taurat, Sabat, sunat, pengadilan Yahudi, pertemuan di Rumah Senahyang dan ibadah lain. Beberapa orang menjadi syahid termasuk Rabbi Akiva dan Asara Harugei Malchut (sepuluh orang yang mati syahid). Zaman aniaya itu atas orang-orang Yahudi telah jalan terus sampai tahun 138 sM.

Bukan hanya orang Yahudi yang dilarang masuk Yerusalem. Yang beragama Kristen juga dilarang. Untuk pertama kali dalam 1000 tahun, sejak Raja Daud menguasai Yerusalem, kota Yerusalem kosong dari orang Yahudi.

Zaman Konstantin dan Bizantin

Pada tahun 324 M Konstantin menjadi pemimpin seluruh Kerajaan Roma. Karenanya Kekristenan mengalami perubahan besar. Daripada agama yang dianiaya, Kekristenan menjadi agama yang sah, bahkan agama Roma. Dampaknya besar di Yerusalem. Gereja-gereja mulai dibangun di tempat sakral di Yerusalem dan Israel dan banyak orang berziarah ke sana. Kota Yerusalem sendiri bertumbuh besar dan menjadi pusat Kekristenan. Ratu Helena membangun gereja-gereja besar di tempat penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus. Yerusalem ditransformasikan menjadi kota Kristen yang besar dan menarik banyak pengunjung dari seluruh Kerajaan Roma.

Pada tahun 438 M Ratu Eudocia mengizinkan orang Yahudi kembali lagi ke Yerusalem. Eudocia membesarkan Yerusalem ke sebelah selatan. Dia juga bangun beberapa gereja, rumah sakit, rumah jompoh dan lain-lain.

Zaman Farsi dan Arab mulai menguasai Wilayah Palestina

Pada tahun 614 M Yerusalem dikuasai lagi oleh bangsa Farsi di bawah pimpin Chosroes. Ribuan penduduk dibunuh. Banyak gereja dihancurkan dan kerampasan dan pencurian terjadi. Yang disakralkan sebagai Salib Yesus dicuri tetapi pada tahun 628 M, Kaisar Heraclius mengembalikan pemerintahan Bizantium dan Salib pun dikembalikan ke tempatnya. Tetapi sepuluh tahun kemudian pada 638 M, Yerusalem diserang oleh tentara Arab yang dipimpin oleh Umar, Khalif Islam yang pertama, lalu wilayah Palestina-Israel berada di bawah pemerintahan Khilafah Islam.

Ternyata kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah tidak membawa Israel berkuasa sebagai bangsa dan negara, dan walaupun di sepanjang zaman, sejak 1500 sM sampai zaman Khilafah Islam pada tahun 638 M, bahkan sampai sekarang, tak pernah wilayah Israel-Palestina kosong dari orang Yahudi.

Sepanjang zaman itu ada jutaan orang Yahudi yang tinggal di Timur Tengah (Mesir, Siria, Afrika Utara, Arab Saudi, Yaman dll) walaupun pada zaman Khilafah Islam jumlah orang Yahudi yang tinggal di wilayah Palestina telah turun sampai 100.000 orang namun wilayah itu kini sudah 3500 tahun tanpa putus berpenduduk orang-orang Israel.

Oleh : Dr. Jeff Hammond

Artikel ini merupakan sambungan dari Sejarah Konflik Timur Tengah 2

Bersambung ke Israel di Zaman Byzantium-Arab (638M-1099M)

Sumber

1 komentar: