Kaum Muda - Masa Depan Gereja

Kekristenan pada masa kini menghadapi masa - masa sulit (seperti yang digambarkan dalam 2 Timotius 3), baik dari luar ataupun dalam gereja , yaitu:

  • Dari luar gereja: ide - ide yang tidak Alkitabiah lebih banyak digemari orang, daripada doktrin atau ajaran yang benar.
  • Dari dalam gereja: musuh dalam selimut (ajaran sesat/sensasional dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab).

Tantangan lebih khusus juga dihadapi oleh kaum muda perkotaan di abad 21 ini:

  • Masa pencarian jati diri: kehidupan yang masih labil, mudah terprovokasi dari luar.
  • Mempertanyakan masa depan: pekerjaan, karier, pasangan hidup, dll.
  • Menaruh antusiasme yang tinggi terhadap teknologi: Ipad, Internet, Blackberry, HP, dll.
  • Menaruh perhatian pada eksposer kekerasan: film - film sadis, horror, dll.
  • Mengalami situasi keluarga yang terpecah: tinggal jauh dari keluarga, broken home, tetangga tidak saling kenal, dll.
  • Menaruh perhatian pada eksploitasi seksual: film porno, menyamakan seks dengan kasih.
  • Menaruh perhatian pada hal - hal baru dan ajaib, seperti tayangan sulap, film Harry Potter, buku tentang jalan - jalan ke sorga, dll.
  • Menentang otoritas dari luar dirinya.

Jika kita melihat situasi abad ke-21 ini, tidak dapat diingkari bahwa anak muda perkotaan merupakan sasaran paling empuk dari segala bentuk pengajaran sesat pada masa kini. Padahal masa depan gereja terletak di tangan kaum muda. Meskipun demikian, patut disyukuri bahwa survey Gallup baru - baru ini memperlihatkan bahwa hampir 60-80% kaum muda Kristen di Indonesia masih menaruh perhatian serius pada hal - hal spiritual dan kegiatan gereja meskipun dengan motivasi yang berbeda - beda. Pada abad ke-21 ini, Tuhan mau ada restorasi terjadi dalam gereja. Memahami peran sentral kaum muda bagi masa depan gereja. Bagaimana sikap yang benar dari kaum muda Kristen menghadapi situasi dan perkembangan dunia masa kini?

1. Berpegang pada ajaran Alkitab (Mazmur 119:9, 2 Timotius 3:15-17)

Hidup manusia gereja terletak pada kepercayaan terhadap Alkitab sebagai Firman Allah. Penolakan terhadap Alkitab merupakan awal penolakan dari keruntuhan kekristenan. Kaum muda harus terus belajar untuk memandang segala persoalan kehidupan dari perspektif Alkitab (soal masa depan, pacaran, menikah, karier, makna dan tujuan hidup). Kehidupan yang berdasar pada Alkitab dan berorientasi pada kemuliaan Allah merupakan modal dasar yang penting bagi kebahagiaan masa muda dan kekuatan untuk menghadapi tantangan apapun pada usia muda, bahkan hingga masa tua.

2. Mengenal dan mempelajari doktrin atau ajaran dasar iman Kristen

Sebuah lembaga survey di Amerika Serikat (Gallup) memperlihatkan bahwa empat dari sepuluh anak remaja (42%) yang mengikuti ibadah hari Minggu sebelumnya ternyata berkumpul atas dasar tertarik pada sifat kelompok agama yang mengutamakan pengalaman dan hubungan ketimbang kepercayaan yang abstrak. Tidak cukup hanya menerima Alkitab sebagai Firman Allah. Ajaran - ajaran sesat dari masa lampau hingga masa kini juga menggunakan Alkitab untuk menyesatkan orang - orang Kristen. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengetahuan yang benar tentang isi Firman Allah. Keteguhan hati untuk berpegang pada Firman Allah secara benar dan bertanggungjawab akan menghindarkan kita dari berbagai pengaruh ajaran sesat, bahkan ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan, kita akan lebih tabah dan kuat. Karena itu, kaum muda harus bersemangat untuk mempelajari Alkitab, membaca buku - buku teologi, mengikuti pemahaman Alkitab dan pembinaan di gereja, aktif dalam kegiatan KTB (Kelompok tumbuh Bersama), dll.

3. Melibatkan diri secara aktif dalam pelayanan gereja

Tidak dapat dipungkiri bahwa masa muda adalah masa suka berkumpul. Ikatan emosional dengan teman/sahabat jauh lebih kuat daripada dengan keluarga. Namum perlu diperhatikan bahwa “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik, 1 Korintus 15:33”. Menghadapi situasi ini, pilihan terbaik adalah gereja sendiri. Melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan kegiatan gereja lainnya, kaum muda dapat menyalurkan kreativitas dan bakatnya untuk mengembangkan potensi dirinya dan sesamanya. Oleh sebab itu, gereja harus menaruh perhatian serius supaya kegiatan - kegiatan gereja berdampak secara efektif untuk pengembangan sumber daya kaum muda serta terus mendorong mereka untuk semakin mencintai gereja, serta menjadikan gereja adalah “milik” mereka sehingga setiap generasi kaum muda merasa perlu untuk terlibat secara aktif memajukan gereja. Seringkali terjadi gap antara generasi tua dengan generasi muda di dalam gereja. Generasi tua “ngotot” untuk menerapkan cara lama yang sudah bertahun - tahun dipraktikkan, sedangkan generasi muda merumusan dengan cara dan kegiatan baru karena beranggapan bahwa produk generasi tua sudah “ketinggalan jaman”. Dampaknya, seringkali konflik dan kesenjangan terjadi, untuk menghindari hal tersebut, generasi tua sebaiknya melakukan evaluasi terhadap kegiatan gereja (yang dianggap tidak efektif dan tidak relevan harus rela dibaharui, yang masih relevan dipertahankan) agar tetap relevan dengan perkembangan jaman namun tetap Alkitabiah, serta meningkatkan komunikasi dan kebersamaan dengan generasi muda sehingga mata rantai regenerasi gereja tidak terputus. Berkaca dari gereja di Barat, generasi tua harus memikirkan pentingnya kaderisasi bagi kaum muda gereja sehingga tercipta kaum muda dan generasi penerus yang semakin berkualitas dan memuliakan nama Tuhan. Soli Deo Gloria.

-Y.J-

1 komentar :